ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM BELAJAR PEMECAHAN MASALAH PADA MATA PELAJARAN IPS DI SDN 2 TEGAL WANGI
Authors
ipbcirebon
Abstract
Abstract:
This research investigates the obstacles encountered by elementary students in acquiring social studies skills, with a focus on enhancing their problem-solving capabilities. Employing a qualitative descriptive approach, the study was carried out at SDN 2 Tegal Wangi through classroom observations, teacher interviews (specifically with Grade 4 instructors), and analysis of relevant documents. The results indicate that teaching methods largely remain traditional, showing minimal application of contextual and thematic learning strategies, even though the Merdeka Curriculum has been implemented. In addition, students are seldom encouraged to develop higher-order thinking skills, and the instructional practices rarely incorporate real-world social issues. External factors such as minimal parental involvement, lack of diverse teaching media, and the underutilization of local cultural values as learning resources further hinder students’ ability to solve social problems effectively. This research contributes to the academic discourse by offering insights into the real obstacles within the current learning practices and underscores the need for a more problem-based and student-centered instructional design. Enhancing problem-solving skills in social studies is expected to foster critical thinking, social awareness, and collaborative learning, aligning with the educational goals of the 21st century.
Abstract:
Penelitian ini menyelidiki hambatan yang dihadapi oleh siswa sekolah dasar dalam memperoleh keterampilan IPS, dengan fokus pada peningkatan kemampuan pemecahan masalah. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini dilakukan di SDN 2 Tegal Wangi melalui observasi kelas, wawancara guru (khususnya dengan guru kelas 4), dan analisis dokumen yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengajaran sebagian besar masih bersifat tradisional, dengan penerapan strategi pembelajaran kontekstual dan tematik yang minim, meskipun Kurikulum Merdeka telah diterapkan. Selain itu, siswa jarang didorong untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan praktik pembelajaran jarang memasukkan isu-isu sosial dunia nyata. Faktor-faktor eksternal seperti minimnya keterlibatan orang tua, kurangnya media pembelajaran yang beragam, dan kurangnya pemanfaatan nilai-nilai budaya lokal sebagai sumber belajar semakin menghambat kemampuan siswa untuk memecahkan masalah sosial secara efektif. Penelitian ini berkontribusi pada wacana akademis dengan menawarkan wawasan tentang hambatan nyata dalam praktik pembelajaran saat ini dan menggarisbawahi perlunya desain instruksional yang lebih berbasis masalah dan berpusat pada siswa. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran IPS diharapkan dapat menumbuhkan pemikiran kritis, kesadaran sosial, dan pembelajaran kolaboratif, yang sejalan dengan tujuan pendidikan di abad ke-21.